» » Andari

Pembaca :

Poto – poto itu hanya benda mati. Tidak pernah bermakna lebih, sekalipun aku di dalam poto itu bisa tersenyum seperti itu. Yah hanya seperti itu dan sebatas itu. Jadi tak perlu kau pandangi hingga detil apa – apa yang ada di dalam poto itu. Biar saja terpampang disana, toh tak ada yang peduli.

Begitu yang dikatakannya sewaktu kunjungan pertamaku ke rumah. Yang saat itu aku sibuk berpikir tentang dua orang di dalam poto yang dipajang begitu besar di salah satu dinding di ruang tamu, namun aku tak pernah melihat keduanya bersama – sama. Mungkin aku melewatkan sesuatu, batinku. Tapi ya sudahlah apa peduliku, seperti yang diminta Andari.

Aku memanggilnya Andari begitu saja tanpa atribut Bu, Mbak, atau yang lain yang lebih sopan karena ia jauh lebih tua daripada aku. Tetapi ia sendiri yang memintaku memanggilnya dengan nama saja. Toh semua juga tahu Andari walaupun tanpa Bu atau Mbak. Begitu ucapnya, yang menurutku tak biasa.

“Mau minum apa? Aku buatkan sebentar..”
“Ah..tak perlu repot – repot.” Ucapku, tapi dalam hatiku berkata keluarkan saja semua makanan dan minuman yang ada karena perutku mulai lapar dan tenggorokanku serak. Tapi mana mungkin seorang Jawa seperti itu, karena seorang Jawa harus menunjukkan unggah ungguh yang sopan di depan orang, ah ini ah itu dan sebagainya, yang dikatakan ibuku ketika aku masih kecil dulu.

“Nik..Nunik, kamu kok tidak bosen memelototi poto itu kenapa? Kamu kepingin seperti itu? Hu um??” tanya Andari mengagetkanku.
“Lohh An, itu suamimu ya?”
“Yang mana?”
“Yang di poto itu to, yang sama kamu, itu kamu kan? Apa mataku salah lihat?”

Andari sejenak berkedip – kedip. Ia lalu membenarkan kacamatanya.
“Oalah itu to.. Iya, itu memang aku, waktu masih muda dulu. Sekarang aku sudah tua, jadi beda jauh sama perempuan yang di dalam poto itu. Ya wajar aja, kan manusia diserang usia to Nik…Nik..”
“Bukan gitu An, aku penasaran aja, suamimu mana?”

Andari melirikku.
“Oh, aku tidak tahu kemana ia Nik..”
“Lagi kerja jauh ya? Kok aku tidak pernah lihat dia?”
“Aku saja jarang lihat dia, apalagi kamu. Heh, kamu penasaran kenapa? Kamu mau jadi istrinya?”
“Ah ngawur kamu!” aku menjadi kaget dengan jawabannya. Tapi aku merasa ada sesuatu yang kulewatkan. Mungkin lain kali aku akan dapat jawabannya.

Seorang Jawa harus sabar, kata ibuku. Lama – lama aku berontak juga. Sejauh mana seorang Jawa itu harus bersabar? Memangnya hidup ini cuma untuk bersabar dan menunggu. Bahkan ibu juga pernah bilang bahwa aku pun mesti sabar untuk dilamar lelaki. Jangan terburu – buru, tidak baik menunjukkan agresif bagi wanita Jawa. Dan yang terpenting itu wanita Jawa mendampingi suami nanti, yang jadi kepala keluarga itu suami dan istri menemani, mendukung, menjaga, merawat, mengasihi. Batinku, berat sekali peran wanita Jawa dihadapan suami kalau seperti yang dikatakan ibuku terbukti benar.

Bagi Ibu mungkin lakunya sebagai wanita Jawa, istri sekaligus ibu yang sejati sudah terpenuhi. Bagaimana tidak, kalau Bapak merupakan orang yang disegani di desa. Teman – temannya banyak orang penting dan macem – macem agendanya semua berbau penting. Jelas saja Ibu diciptakan untuk menemani, mendukung, menjaga, merawat dan mengasihi. Beruntung sekali menjadi seperti Ibu, yang ia ingin sekali menularkan keberuntungannya kepada  anak gadisnya, aku.

“Nunik..!!!”
Teriakan Andari membuyarkan lamunanku akan sosok Ibu.
“Kenapa kamu bengong – bengong saja begitu??? Ayo..ayo kita berangkat sekarang saja.”
“Eh, rumahmu gak kamu kunci An?”
“Alah biarkan saja, paling juga sebentar lagi orang tua itu pulang…”
“Kalau gak pulang?”
“Ya biar saja gak pulang” Andari lalu tertawa sinis.

Aku manut saja dengan jawaban Andari. Bosku ini memang agak lain dari wanita – wanita Jawa yang digambarkan Ibu. Andari lebih berani, dalam arti tidak begitu sabar dan mau menunggu. Setidaknya hal itu terlihat dari kegesitannya bekerja dan aku beruntung mengenalnya. Ia membantu cukup banyak pekerjaanku sehingga aku sekarang terjerat padanya dan aku susah membuang penasaranku pada poto itu, pada sesuatu yang kulewatkan.

“Nik, kamu belum kawin to?” Andari bertanya hal ini lagi, sudah empat kali kurasa.
“Belum. Nanti saja..” jawabku datar.
“Belum apa gak mau? Kamu kan banyak yang naksir, aku perhatiin lohh banyak yang suka goda – goda kamu. Memangnya kamu gak tertarik? Barangkali ada yang sreg di hati kamu..”
“Barangkali ada, tapi aku belum mau saja.” Aku sedikit keberatan dengan topik ini.

“Ehh, kita mampir dulu di situ, minum sebentar saja” pinta Andari. Aku garuk – garuk kakiku yang agak pegal. Sebentar – sebentar mampir, kapan sampainya? Tapi aku manut saja, dia kan bosku.

Tetapi disela minum yang sebentar ia bilang tadi, aku mendapat jawaban dari rasa penasaranku atas poto di dinding ruang tamunya. Ia mula – mulanya menghela nafas, seperti akan mendongeng panjang.

“Duduk saja Nik, kita masih punya waktu cukup banyak untuk ke pameran. Kita istirahat saja sebentar.”

Wah, mungkin gelagatku terbaca olehnya. Aku menjadi agak gugup di depannya. Wanita ini benar – benar lain dari Ibuku dan wanita – wanita yang digambarkannya. Aku seperti hendak dilahap seekor harimau.

“Kamu tahu Nik, aku tidak pernah bersama – sama dengan lelaki walaupun aku dikatakan sudah menikah. Bukan karena suamiku meninggal. Ia masih hidup, tapi aku tak peduli. Kecuali ia sakit dan pulang ke rumah setelah perantauannya. Orang seperti ia tidak butuh rumah tangga, ia hanya butuh wanita. Buat apa? Ya buat apalagi kalau bukan buat ditiduri. Hhhhh…”

Jadi ini jawabannya, batinku lagi. Dilema, apakah aku harus memberi jawaban bernada mendukungnya, atau aku bersikap tak peduli karena itu rumah tangganya yang tak ada kaitan denganku, atau aku pura – pura konsen saja. Ah, aku agak geli dengan diriku mengapa memandangi poto yang menurutku aneh itu.

“Kalau kamu menikah nanti, pastikan bahwa kamu benar – benar sadar Nik…”
“Maksudnya apa?”
“Yah, menikah itu enak di awalnya saja. Kepedulian itu makin lama makin luntur karena sibuk lah, konflik lah, bahkan bosen juga iya. Itu kadang terjadi kalau rumah tangga tidak kokoh. Jadi, sebelum menjadi kering, rumah tangga perlu disirami. Namun sayangnya aku kelewatan sehingga kamu tahulah aku kesana kemari sendirian saja.”

Ini sesuatu yang berbeda dari wanita yang digambarkan Ibuku. Aku membayangkan jika Ibu mendengarkan cerita Andari mungkin Ibu menjadi ‘sumuk’ karena merasa trenyuh sebagai sesama wanita. Ibu sudah tua memang, namun Andari yang jauh lebih muda ternyata mengalami keadaan rumah tangga yang berbeda darinya. Beruntung sekali menjadi Ibuku, namun kasihan sekali menjadi Andari.

“Nik.. bengong saja kamu..”
“Oh..itu, aku teringat Ibuku saja. Beliau kalem dan suka nuturi hal rumah tangga. Aku hanya gak tahu nanti bisa menuruti keinginannya atau tidak dalam berumah tangga. Mendengar ceritamu saja aku ngeri. Mungkin aku saja yang belum siap to An..”
“Ya..Ya.. Kamu belajar saja dari kisahku. Gak semua orang gagal kok… Itu banyak yang adem ayem sampai tua. Jangan tiru aku…”

Begitu saran Andari terhadapku yang masih lajang ini. Andari tentu telah mengalami masa – masa yang sulit dan penuh kesedihan ketika mengetahui suaminya sibuk bekerja namun selingkuh juga. Kesedihannya itu menjadikannya pribadi yang kuat diluar, ia menjadi terlalu tabah dan kokoh sehingga tak tampak lagi aura murungnya. Ia bahkan menjadi cuek sekali terhadap rumah tangganya, ia melarikan pikirannya kepada pekerjaan dan kehidupan luar. Namun ia tak memilih bercerai karena tidak ada laki – laki juga masih bisa makan, begitu katanya. Tabah.

Dan aku? Mungkin aku akan pulang dan menerima laki – laki yang dibicarakan ayahku. 


(oyin.)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" agar Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencanaNya adalah SEMPURNA.


Disclaimer
Oyin Ayashi admits that though we try to describe accurately, we cannot verify the exact facts of everything posted. Postings may contain Information, speculation or rumor. We find images from the Web that are believed to belong in the public domain. If any stories or photos that appear on the site are in violation of copyright law, please write in comment box and we will remove the offending section as soon as possible. (Oyiners = Blog reader)

Above article written by Unknown

bean
Hi there!, You just read an article Andari . Thank you for visiting our blog. We are really enthusiastic in Blogging. In our personal life we spend time on photography, mount climbing, snorkeling, and culinary. And sometimes We write programming code.
«
Next
Newer Post
»
Next
Older Post

Silakan beri komentar dengan akun facebook Anda