Prologue

Recent post
-
petis umumnya dibungkus daun pisang M endengar kata petis terbayanglah si hitam olahan dari ikan, yang biasanya untuk mengolesi tahu gore...
-
S ista... bukan rahasia lagi jika setiap perempuan ingin punya kulit yang putih dan mulus, terutama kulit wajah. Apalagi sekarang banyak d...
-
Supodo dengan Blangkonnya M ungkin saja diantara sobat langsung menebak jika huruf yang berakhiran O, misalnya Samekto, Supodo, Kuntoro,...
-
D i kaki Gunung Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 meter, seorang anak laki-laki bermimpi. Kelak, ia akan membangun kamar di rumah mun...
-
Situs jejaring sosial dewasa memang digemari peselancar dunia maya. Dan baru-baru ini muncul jejaring sosial yang terbilang unik. Jejaring...
-
Foto hasil animasi dengan Gift Animator + Photo Shop Pembuatan Animasi : Apa yang dimaksud dengan animasi, tentu kita sudah mengerti y...
-
How do you hold on to someone you’ve never met? Kate Forster adalah seorang dokter yang pada tahun 2006 tinggal di Chicago. Dia telah pinda...
-
C erita tentang Nyi Roro Kidul ini sangat terkenal. Bukan hanya dikalangan penduduk Yogyakarta dan Surakarta, melainkan di seluruh Pulau Ja...
Do before you die
Epilogue

Akan ada pagi esok hari. Sama seperti pagi ini dan sebelumnya. Selalu saja matahari muncul di ufuk timur diikuti riuh kokok ayam bersahutan. Kemudian embun memanas dan kering pada dahan yang terbangun dari kemalasannya. Nyala siang menggebu menyayat kulit dan debu menyaingi pandangan mata ke sekitarku.
Denting, yang tak pernah melaju surut, tenang dalam diamnya namun kadang menggilas pesona senja lalu menjadikannya gelap oleh malam. Langkahku pelan kembali pada malam-malam seperti biasanya. Senjaku selalu sama seperti pagiku. Dan di antara siang dan malam yang berganti aku bersembunyi dalam sesak dada. Riuh sekali kudengar di sana berteriak pada Sang Kuasa, meskipun hening yang selalu tampak pada bola mata sayu ini. Seolah mencari pagi yang tak sama. Seolah mengharap siang dan malam yang menjelmakan mimpi-mimpiku.