Prologue

Recent post
-
Mungkin generasi abad teknologi sudah melupakan budaya Nusantara yang penuh makna dan ragam. Salah satunya adalah wayang. Banyak jenis wa...
-
B elum ada sumber jelas yang memastikan awal dari tradisi menyematkan gembok di jembatan sebagai lambang cinta kasih. Namun, fenomena in...
-
T entu kita sudah sangat akrab dengan beberapa kosakata ekonomi atau politik yang sedang hits di negeri ini. Siapa yang tidak tahu maksud d...
-
F enomena baru yang disebut trick art 3D sedang populer di Indonesia, khususnya masyarakat ibukota. Trick art 3D adalah gambar atau lukisa...
-
Adenium atau Kamboja Jepang (nama kamboja Jepang sendiri sebenarnya menyesatkan, karena dapat diidentikkan dengan bunga kamboja yang banyak...
-
Akhir-akhir ini semakin banyak wisatawan muslim yang berkunjung ke Jepang. Untuk mengimbangi hal itu, restoran yang bersertifikat halal ...
-
Setelah sekitar satu abad melakukan penelitian, para ilmuwan Swiss berhasil mengungkap misteri lubang-lubang besar yang biasanya terdapa...
-
"Kudengar,di negeri tropis ini sudah tak lagi mempersoalkan kasta. Din. Satu kali. Menandakan aku ada. Din. Din. Dua kali. Menandakan...
Do before you die
Epilogue

Akan ada pagi esok hari. Sama seperti pagi ini dan sebelumnya. Selalu saja matahari muncul di ufuk timur diikuti riuh kokok ayam bersahutan. Kemudian embun memanas dan kering pada dahan yang terbangun dari kemalasannya. Nyala siang menggebu menyayat kulit dan debu menyaingi pandangan mata ke sekitarku.
Denting, yang tak pernah melaju surut, tenang dalam diamnya namun kadang menggilas pesona senja lalu menjadikannya gelap oleh malam. Langkahku pelan kembali pada malam-malam seperti biasanya. Senjaku selalu sama seperti pagiku. Dan di antara siang dan malam yang berganti aku bersembunyi dalam sesak dada. Riuh sekali kudengar di sana berteriak pada Sang Kuasa, meskipun hening yang selalu tampak pada bola mata sayu ini. Seolah mencari pagi yang tak sama. Seolah mengharap siang dan malam yang menjelmakan mimpi-mimpiku.