» » Meninggalkan Penulis

Pembaca :

"Aih, 

Satu orang mengatakan bahwa menulis itu tak mudah. Satu orang yang lain mengatakan bahwa menulis itu gampang. Dan aku berada di antaranya. Kusebut begitu sebab seseorang tak akan menjadi penulis kalau ia belum menjadi pembaca. Membaca merupakan akar sebuah inspirasi. Akar yang diharapkan mampu menyalurkan bakat tertidur sebuah karya yang mungkin akan fenomenal. Hal seperti ini sudah diwujudkan dan dibuktikan melalui lahirnya beberapa karya yang ditulis oleh seseorang yang tadinya bukan siapa – siapa, bukan apa – apa kemudian menjadi ‘seseorang’, ‘sesuatu’ bagi kehidupan orang lain.

Karya menulis berupa puisi, cerita pendek, dan bahkan novel begitu menjamur di negeri serba tropis ini. Entah kebetulan entah sengaja, karya – karya itu menjadi simbol keterbukaan dan kebebasan ekspresi. Maka lahirlah satu persatu nama – nama yang tadinya asing, kini menjadi akrab. Sebut saja Asma Nadia, yang lahir lewat karir menulis di media cetak. Juga Kang Abik yang sempat membuat heboh dengan karyanya ‘Ayat – ayat Cinta’. Lain lagi Dee (Dewi Lestari) yang sebagian karyanya lebih dinikmati ketika diwujudkan ke dalam sebuah film, seperti halnya Andrea Hirata lewat ‘Laskar Pelangi’-nya.

Kusebut ini tentang membaca, namun aku rupanya bukan pembaca yang baik. Mungkin hanya seperseribu buku sudah kubaca dari jumlah total jutaan bahkan milyaran judul buku. Patokanku dalam membaca adalah isi dari buku tersebut. Seorang penulis bebas memilih jalur di mana ia akan menulis. Bisa sastra, kritik, sains, demo, atau banyak lagi. Aku membaca buku – buka sains berkat paksaan ketika duduk di bangku sekolah. Lalu aku menjadi jatuh cinta pada buku – buku sastra ketika bosan dengan sains. Aku seperti pengelana dari satu konteks buku ke konteks yang lain.

Tadinya aku begitu gandrung dengan karya fiksi. Cerpen, novel, drama, apalah itu. Namun pada suatu titik aku berubah arah. Aku membaca sebuah novel karya penulis modern, dari satu judul ke judul berikutnya ternyata hanya itu – itu saja yang disuguhkan. Cinta. Cinta. Cinta antar lawan jenis. Kalaupun bukan cinta ya tak jauh – jauh dari cinta. Mungkin sebuah konflik dihadirkan namun tetap saja ada bau cinta disana. Baiklah tak mengapa, memang dunia menulis di negeri tropis ini begitu menyukai topik percintaan.

Aku menjadi kecewa ketika seorang penulis modern – kusebut begitu sebab mereka dilahirkan di era sesudah Chairil Anwar – cenderung menulis untuk membuat karya. Bukan lagi untuk melahirkan karya. Membuat dan melahirkan disini kubatasi berbeda. Jika menulis memang untuk melahirkan karya, maka ada begitu banyak poin yang bisa dipetik dari karya itu. Seperti halnya melahirkan manusia yang butuh sperma dan sel telur, lalu butuh sembilan bulan dikandung. Melahirkan memang tak seperti membuat. Begini, seseorang mula – mula membuat sebuah karya, kemudian melahirkannya. Jadi, keduanya merupakan proses yang berkelanjutan. Untuk membuat karya, semua orang bisa tetapi untuk melahirkan karya butuh sarana. Lahir berarti diakui. Dan sudah banyak penulis lahir lewat karya fenomenal mereka.

Masalahku, dari sebuah karya fenomenal ke karya – karya berikutnya dari penulis yang sama ternyata ada sesuatu yang hilang. Yang tergerus pelan – pelan. Terkikis seperti batu akan air, jadi tidak seketika menghilangnya. Kalau pada karya fenomenal yang pertama penulis mampu menulis dengan diksi yang eksotis, selanjutnya mulai hilang menjadi tidak eksotis lagi sehingga ketika membaca ya hampa tak beda dengan membaca berita di Koran. Yang penting ada tokoh, setting, alur, dan memenuhi 5W+1H.

Begitulah, agaknya jika menulis adalah untuk membuat karya maka ada unsur menarik yang terkikis. Sebab menulis untuk memenuhi target. Seorang penulis yang tadinya tidak menyukai sastra, lalu menulis karena tuntutan protes diri sendiri atau malah untuk sarana ekonomi jelas ngawur saja. Ini menurutku. Dan ini bukan menggurui, ini hanya protesku yang terpikir karena perjalananku membaca dari satu judul ke judul lainnya.

Mengapa penulis tak mempertahankan semangatnya yang tercetak pada karya pertama? Misalnya saja gaya bahasa, yang tadinya penuh metafor kemudian menjadi logis. Baiklah, kuanggap penulis ingin menjajal petualangan baru. Sebab menulis merupakan petualangan baik yang sudah terjadi maupun yang dibayang – bayangkannya.

Lalu haruskah aku – dan pembaca sepertiku – ikut dalam petualangan penulis tersebut? Jadi jika ia menulis sastra maka aku akan belajar sastra, kemudian jika ia menulis sains maka aku akan belajar sains juga. Oh, melelahkan agaknya mengikuti sang penulis ini. Maka solusiku ialah meninggalkannya. Aku tak cukup kuat untuk berpetualang perpindah – pindah. Lalu aku menemukan penulis yang baru lahir. Aku tertarik sebab karyanya mirip – paling tidak bertema sama – dengan penulis yang kusuka sebelumnya sehingga aku merasa memiliki rumah baru untuk berteduh.

Masalahku – sekali lagi – penulis yang ini pun menyukai berpetualang dalam menulis. Baiklah, rupanya banyak penulis suka petualangan. Aku mencoba ikut, sekali – kali saja lah, masa aku stagnan di satu rumah padahal penulis – penulis tengah merambah dunia baru. Memang tidak semua penulis berubah jalur, namun nyatanya banyak penulis kehilangan esensi dari kepenulisannya sendiri. Esensi, pokok, inti dari karyanya itu menjadi mengecil ibarat jam pasir yang semakin banyak karya semakin sedikit yang tersisa. Mengapa? Entah. Tapi menurutku, seorang penulis yang menulis untuk tujuan ekonomi, deadline, atau pesanan akan mengalami keterkikisan esensi karyanya. Entah apa yang membuatnya menjadi mesin sehingga terasa sekali perbedaan struktur, diksi, maupun arah imajinasi. Walaupun topiknya tetap sama, ya cinta – cintaan itulah. Tetapi mereka menulis untuk membuat karya, bukan melahirkan karya.

Pembaca sepertiku, ingin selalu disuguhi karya yang menarik, walaupun tidak fenomenal tetapi paling tidak unsur – unsur yang menarik tetap ada. Yaitu unsur yang berdeda dari karya – karya sebelumnya. Nah, penulis seperti ini pernah lahir di era sebelum millennium. Dahulu, seorang penulis memiliki banyak karya yang berbeda – beda sasaran namun tidak kehilangan esensi dirinya sebagai penulis tanpa desakan deadline. Sebut saja HAMKA, sepanjang karyanya kurasa tidak ada yang berbau ‘ekonomi’ atau ‘uang’, jadilah ia menulis karena benar – benar inilah sarananya mengatakan perihal tertentu yang mengganggu batinnya walaupun hanya fiksi. Aku menyukai beliau, walaupun hanya kenal lewat karya – karyanya. Juga Pramoedya Ananta Toer, mana dari karyanya yang diapresiasi dalam bentuk uang? Dicetak, iya. Diterbitkan, iya. Namun yang membuat karyanya menjadi fenomenal ialah karena isinya yang nyata. Yang sebagian orang akan manggut – manggut dan bergumam ‘oh, iya ya betul sekali’.

Perbedaannya, penulis era modern tak suka dengan imajinasi karena cenderung menulis dengan logis. Mereka takut akan ditanya masa hal seperti ini ada di dunia, atau masa yang begini saja dibesar – besarkan. Hmmm apa salahnya menulis untuk membangun imajinasi? Apakah para pembaca yang sudah melek teknologi ini tak mau lagi dengan bacaan imajinatif? Tidak, belum tentu.

Karya – karya akan banyak bermunculan namun tidak semua mampu membangunkan imajinasi pembaca, setidaknya sepertiku. Lalu apakah penulis harus berhenti di karya fenomenalnya sebab akan kehilangan esensi? Jelas jangan. Teruslah menulis, namun tanpa kehilangan esensi.

Kupikir banyak penulis memaksakan diri untuk menulis. Jadilah tulisannya itu sebuah produk saja. Tidak bisa menjadi tulisan sarat makna sehingga pembaca akan manggut – manggut dan bergumam ‘wah,fantastis’. Karena produk itu akan dibaca, lalu diletakkan di rak. Tidak bisa dibedah dalam diskusi kusir antar pembaca, apalagi dalam lingkup pendidikan. Mana karya yang seperti itu? Ada tidak di dunia modern ini? Siapa yang akan menulis lagi karya – karya bagus? Jadi wajarlah jika aku mulai meninggalkan penulis yang tadinya kusanjung, kini menjadi biasa saja.

Ini aku bukan menggurui, tidak, aku tak punya kapasitas untuk melakukan hal itu. Aku hanya gerah dan protes kepada para penulis yang menggeser minat kepenulisannya menjadi sumber nominal saja. Sehingga ngawurlah isinya, hampa, kosong, melompong dan blong. Jadi kembalilah kepada panggilan awal untuk menulis dan aku – yang bukan pembaca yang baik – akan merasa memiliki ruang khusus untuk berteduh dan terus berada disitu. Sungguh, berpetualang memang menyenangkan, namun ada kalanya tinggal di rumah tidak akan membuat kita kehilangan identitas diri baik sebagai penulis maupun pembaca. Malahan, akan bisa membuat semakin betah, ini menurutku.


*Anisha kasih
4 Mei 2012

Satu orang mengatakan bahwa menulis itu tak mudah. Satu orang yang lain mengatakan bahwa menulis itu gampang.
Dan aku berada di antaranya.

Ini aku bukan menggurui,
tidak,
aku tak punya kapasitas untuk melakukan hal itu.
Aku hanya gerah..."





Disclaimer
Oyin Ayashi admits that though we try to describe accurately, we cannot verify the exact facts of everything posted. Postings may contain Information, speculation or rumor. We find images from the Web that are believed to belong in the public domain. If any stories or photos that appear on the site are in violation of copyright law, please write in comment box and we will remove the offending section as soon as possible. (Oyiners = Blog reader)

Above article written by Unknown

bean
Hi there!, You just read an article Meninggalkan Penulis . Thank you for visiting our blog. We are really enthusiastic in Blogging. In our personal life we spend time on photography, mount climbing, snorkeling, and culinary. And sometimes We write programming code.
«
Next
Newer Post
»
Next
Older Post

Silakan beri komentar dengan akun facebook Anda