» » Cinta yang kandas

Gedung tempat pertunjukan masih lengang pukul delapan pagi ini, ketika aku dan Adit tiba untuk mengantar Nesya mengikuti kompetisi piano yang diadakan sebuah sekolah musik. Aku berusaha menahan hati, menahan geli, karena kupikir lucu juga berdua dengan suami, duduk bersebelahan di dalam mobil, sementara kami masih berseteru.

Tanpa bicara pada Adit, aku langsung mengantar Nesya ke tempat registrasi, lalu ke ruang tunggu peserta lomba. Adit hanya mengekor, tanpa mau membuka mulut. Sejak kepulanganku dari Singapura, kami benar-benar perang.

Ah ... barangkali memang aku harus lebih bersabar lagi, pikirku. Masih bersyukur ia mau turut serta mengantar Nesya, walau sesungguhnya itu karena Nesya yang memaksa...

 
"Sandraaaa....!" Aku tersentak ketika mendengar suara seseorang memanggilku.
Kutolehkan wajahku ke arah asal suara.
"Dino !" balasku ketika melihat sahabatku itu menghampiri.
"Kau ke sini juga ? Anakmu ikut kompetisi juga ?"  Dino mengangguk.

Lalu kami bersalaman. Kulirik air muka Adit  yang mendadak kecut...
"Oh ya,  kenalkan ini suamiku ..."  Aku pun memperkenalkan Adit pada Dino.
"Adit ini Dino, sahabatku."  Adit membalas uluran tangan Dino

"Wah, Mas beruntung punya istri Sandra, karena dia perempuan yang enak diajak tukar pikiran,
wawasannya luas... penuh ide ... dan selalu bersemangat !" komentar Dino tentang diriku
dihadapan Adit. Dino membuatku gemas karena aku khawatir semakin membuat Adit cemburu.

"Kamu salah, Dino ! Bukankah sebaliknya ? Kamulah yang penuh ide.
Aku membalas kata-kata Dino.
"Enggaklah ... aku kan bicara apa adanya, Sandra ! Karena memang kamu seperti itu,
seperti yang kubilang tadi. ”

"Mas, saya kenal Sandra, sejak kami masih sama-sama kuliah."
Adit  hanya mengangguk-angguk...

 Akupun tertawa….

"Anakmu dapat giliran nomor berapa ?",  Aku mengalihkan topik pembicaraan.
"Nomor sepuluh. Anakmu ?"
"Delapan”
"Anakmu sudah masuk ruang tunggu peserta ?"  Dino mengangguk.
"Oh ya, mana istrimu?"

Kutangkap raut wajah Dino yang mendadak sedih. Matanya tak bisa membohongiku bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Kulihat ia tak berani menatapku. Aku semakin yakin ada sesuatu yang tak beres, hanya saja ia enggan aku mengetahuinya.
Ingin aku mencecarnya dengan pertanyaan, namun berhubung ada Adit, terpaksa kutahan keinginanku itu.

"Dia tak bisa ikut, Sandra."
"Wah ... sayang sekali, ya ! komentarku.
"Padahal aku ingin kenal istrimu juga”  Dino tersenyum, lalu melihat arloji di tangan kirinya.
"Ayo kita ke dalam. Sebentar lagi kompetisinya dimulai !"

Aku pun segera masuk ke dalam bersama Adit yang masih mengunci mulutnya.

"Sandra, sampai ketemu lagi ya, aku mau duduk di depan sana !" Dino melambaikan tangan dan berjalan mendahului kami.

"Jadi dia laki-laki sahabatmu yang bemama Dino itu ?" Adit membuka mulutnya ketika kami berdua duduk menyaksikan para peserta mempertunjukkan keahliannya bermain piano. Pandangannya lurus ke depan.
"Ya, kenapa ? Masih curiga aku ada apa-apa dengannya ?" tanyaku santai.

Aduuuh, kalau mau selingkuh aku akan mencari dokter-dokter karena banyak yang lebih kaya dan tampan darinya. Itu kalau-aku mau, kalau aku punya niat...

"Kamu tak sadar ya, bagaimana dia memujimu, mengatakan kamu perempuan yang enak diajak tukar pikiran, berwawasan luas ... penuh ide ... dan selalu bersemangat"

Aku terkekeh...

"Itu sama sekali bukan memuji, tapi mengatakan yang sebenarnya."  tegasku.
"Bukankah aku memang perempuan seperti itu ?"
"Kau pun dulu memilihku karena hal itu, kan ?"
Adit terdiam. kena deh ! Pikirku. Tapi tiba-tiba ia menoleh padaku.

"Maafkan aku, Sandra !,  Setelah tadi kulihat orangnya dan menatap matanya, aku percaya dia memang laki-laki yang baik dan tak punya hati padamu."

Aku menghela napas lega. Ah ... badai ini akhirnya berlalu juga !

"Kan sudah kubilang, dia murni sahabatku sejak dulu. Kalau aku memang mau dengannya, sejak kuliah dulu sudah ku jadikan dia pacarku !" celotehku.
"Makanya, kau harus banyak lagi belajar mengenal diriku. Kecurigaanmu membuktikan kau belum kenal aku.”  Aku mengelus punggung suamiku. Aditpun  tersenyum...
"Sandra ... kau tahu, tadi aku malu dan tak punya bahan bicara. Aku merasa berdosa mencurigai dirinya menyukaimu.”
"Ah, sudahlah. Dino orangnya tak peduli hal-hal seperti itu. Lagi pula kurasa ia tahu persis bahwa tak semua orang yang baru berkenalan bisa langsung akrab.."
"Tapi ada satu hal yang kutangkap dari sorot mata sahabatmu. Itu."
"Apa itu, Dit ?"
"Dia menyembunyikan kesedihan, ketika kau tanya tentang istrinya. Mungkin ada masalah dengan istrinya."

Aku hanya terdiam. Hmm ... berarti pikiranku sama dengan Adit. Ah, sungguhkah rumah tangga sahabatku itu tengah bermasalah? Mungkinkah dia berseteru dengan istrinya? Atau barangkali yang lebih parah lagi telah bercerai ?

Malamnya, kuberanikan diri mengirim pesan pendek melalui Hpku pada Dino.

Dino, aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Maafkan, bukan aku ingin tahu urusanmu, namun sebagai sahabatmu aku hanya khawatir jika kamu mempunyai masalah. Please, jika ada yang bisa kubantu ...

Benar saja, tak lama kemudian Hpku menerima pesan balasan darinya.

Sandra, terima kasih. Kau masih seperti dahulu, sahabatku yang begitu mengerti diriku, dan selalu tahu keadaanku yang sesungguhnya, walau lama kita tak bertemu. Nantilah kapan-kapan akan kuceritakan padamu.

Aku tertegun membaca pesan balasan di Hpku. Sertamerta kubalas pesannya. Dino sahabatku, apa pun keadaannya jika hal itu membuatmu tak bahagia, aku turut prihatin. Please, jika ada yang bisa kubantu jangan segan-segan. Aku akan berusaha membantumu, anytime.

Ayo, sahabat !, Bangkit ! Aku percaya kau lelaki yang kuat, dan bisa menghadapi semua ini. Aku akan mendukungmu, sahabat! Tak lama pesan itu berbalas.
Terima kasih untuk perhatianmu, Sandra. Aku membalas balik pesan itu. If anything I can help. I'm waiting ... any time...


Akupun memenuhi ajakan Dino makan siang di sebuah mall.

"Sandra, istriku sudah menghadap Tuhan !" kalimat itu membuatku bagai disambar petir di siang bolong. "Kamu serius ?"  tanyaku tak percaya. "Kapan ?"
"Dia meninggal ketika melahirkan anak keduaku. Empat bulan lalu."
"I'm sorry ... "
"Aku terpukul kehilangan istriku, Sandra. Dia perempuan yang baik, ibu dan istri yang luar biasa !"
"Jadi waktu kita ketemu di Bali itu, kau sudah menduda ?"
"Ya !, Aku ke Bali atas saran orang tuaku untuk mencari hiburan. Mereka mengkhawatirkan keadaanku yang oleng sepeninggal Astri. Sebelum bertemu kau, kuhabiskan waktuku di Bali hanya untuk bermain apa saja, bermain apa yang kuinginkan,  termasuk bermabuk-mabukan..."

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sedih rasanya mengetahui sahabatku tengah terpuruk.

"Untung malam itu aku ketemu kau, Sandra, sehingga aku punya teman untuk jalan. Kau ingat ketika kita di Makasar, ketika aku sedang minum-minuman ber-alkohol,  kau mengajakku meninggalkan tempat itu. Barangkali jika tak ada kau, aku akan menghabiskan malam dengan bermabuk-ria !"

Aku menatapnya prihatin.

"Sekarang, siapa yang mengurus anak-anakmu ?"
"Orang tuaku bersama seorang suster.”  Aku kembali tinggal di rumah orang tuaku. Rumahku yang kutinggali bersama Astri dulu, kini kosong. Aku tak sanggup tinggal di sana lagi. Rencanaku rumah itu akan kujual.”

Aku terdiam menggigit bibir. Dino mempermainkan sumpit di mangkuk kosongnya.

"Apa saranmu untuk masalahku ini, Sandra?"

Aku menghela napas dalam...

"Well, kenapa kau minta pendapatku, Dino ?"
"Karena aku percaya pada pendapatmu, Sandra. Aku mengenalmu sejak dulu sebagai sahabat yang baik."

Aku tersanjung mendengarnya...

"Kamu sungguh mau mendengar pendapatku, saranku ?"
"Ya !"
"Menurutku, sebaiknya kamu menikah lagi, Dino. Anak-anakmu membutuhkan seorang ibu."  ujarku tulus.
"Carilah pengganti Astri, yang mau menerima keadaanmu apa adanya, dan bisa mencintai anakmu seperti dia mencintai dirimu.”
"Aku tahu. Tapi aku takut mengalami hal serupa lagi, Sandra.”
"Dino, hidup dan mati itu urusan Tuhan. Kenapa kita harus cemas memikirkannya. Yang penting adalah bagaimana kita mengisi hidup ini dengan hal yang positif."


"Sebetulnya ibuku pernah mengenalkanku dengan seorang perempuan lajang. Usianya sebaya kita. Kurasa Ibuku bermaksud menjodohkan perempuan itu denganku. Tapi aku ragu menerimanya, karena aku tak terlalu mengenal perempuan itu, walau ibuku sangat mengenalnya.”
"Mengapa kau tak berusaha mengenal lebih jauh pada perempuan itu ?" desak-ku.
"Bagaimana kau mau mengenalnya kalau kau sendiri tak berusaha ? Kau kan laki-laki, kau yang harus berinisisiatif untuk mengenalnya"
"Kalau begitu, maukah kapan-kapan kau kuajak bertemu dengannya ?"

"Aku ?, Untuk apa ? Bukankah kau yang perlu mengenal dia, bukan aku ?"
"Aku ingin kau mengenalnya, dan bisa memberi saran padaku bagaimana perempuan itu untuk-ku."

Aku tersentak. Tak kusangka Dino sedemikian dalam mempercayaiku.

"Hah ?,  Kamu ini ngaco, aku kan hanya sebatas sahabatmu ?
"Karena aku percaya padamu, Sandra. Kamu satu-satunya sahabat terbaik dalam hidupku. Kau tahu, sejak kecil aku berteman dengan banyak perempuan, tapi pertemanan kami terasa biasa saja. Tidak seperti denganmu. Kau tahu.sejak aku di Perancis dahulu. Aku sangat menghargai surat-suratmu yang selalu memberiku semangat untuk maju.

Apalagi di kala aku merasa suntuk dan  ingin pulang ke Jakarta, aku selalu membaca surat-suratmu, dan itu mampu membuatku kembali pada tujuanku semula !"

"Jadi... sebetulnya semua surat-suratku itu ... kau menerimanya? Tidak salah alamat ?"
"Ya ... aku menerimanya."
"Lantas mengapa tak pernah kau balas ?" Dino terdiam.
"Karena ... karena sesungguhnya, aku takut !"
"Takut ?"
"Ya ... aku takut jika aku lama-lama mencintaimu, dan kau menampiknya."

Aku terdiam.

"Sebetulnya aku telah lama menyukaimu, Sandra. Tapi aku sadar aku takkan pernah bisa bersamamu. Maka jalan yang terbaik adalah menjaga jarak denganmu, hingga akhirnya kita menemukan pasangan kita masing-masing. Dan sampai sa’at ini kita menjadi sahabat sejati. Dan hal itu adalah hal yang terindah yang terjadi di antara kita sampai kapan pun !"

Aku tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Bagaimana ? Kau mau suatu kali bertemu dengan perempuan itu, kan ? Aku ingin kau mengenalnya.”

Demi seorang sahabat, aku pun mengangguk dan menyetujuinya.

"Kau atur saja waktunya nanti, dan beritahu aku kapan kita bertemu !" Dino mengangguk pasti.
"Aku percaya padamu, Sandra. Karena sebagai sahabatku, kau selalu mengatakan apa adanya padaku.
Kau terlalu baik dan polos, tak pernah menyembunyikan sesuatu !"

Aku tersenyum sekaligus terharu mendengar pengakuannya itu.

"Terima kasih untuk kepercayaanmu padaku. Sebagai sahabatmu, aku hanya berharap kau cepat menemukan teman hidup baru, agar kau tak berlarut-larut dalam kesedihan dan menemukan semangat baru."

Dino pun tersenyum.
Disclaimer
Oyin Ayashi admits that though we try to describe accurately, we cannot verify the exact facts of everything posted. Postings may contain Information, speculation or rumor. We find images from the Web that are believed to belong in the public domain. If any stories or photos that appear on the site are in violation of copyright law, please write in comment box and we will remove the offending section as soon as possible. (Oyiners = Blog reader)

Above article written by Dony Jr

bean
Hi there!, You just read an article Cinta yang kandas . Thank on your visiting. We a true enthusiast in Blogging. In my personal life I spend time on photography, mountain climbing, snorkeling and culinary. And sometimes We write programming code.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Silakan tulis komentar dengan akun facebook Anda

Silakan tulis komentar dengan akun google Anda


1. Jika ingin menyisipkan kode, silahkan konversikan dulu kodenya dengan tool Konversi Kode.
2. Jika Anda ingin berkomentar dengan emoticon silakan klik tombol emoticon.
3. Jangan berkomentar yang mengandung sara.
4. Jangan menyertakan link hidup karena tidak akan muncul.
5. Terima kasih Untuk yang telah memberikan komentar
Buka Konversi Kode Tutup Konversi Kode Buka Emoticon Tutup Emoticon