Episode 3
“Aku tak menginginkan dirinya, Pie… Bagiku semangatnya membesarkanmu melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Benar, ia tak melahirkanmu, tetapi ia, Ratih, menghidupkanmu… Ah, barangkali aku banyak bicara. Kau tentu tahu mengapa Ratih tidak menikah. Esensi menikah baginya adalah berbagi, tetapi tidak untuk membagi gadis kecilnya…”
Lagi-lagi angin senja merajai suasana. Sedikit dingin karena kabut bukit, tetapi begitu menenangkan. Piandra masih terduduk membelakangi bukit sunyi Sang Ratih. Matanya kaku menatap daun-daun hijau yang bergoyang oleh angin senja. Ia seperti tak mau beranjak meninggalkan bundanya.
“Hari sudah sore begini, di rumahmu mungkin ada seseorang menunggumu. Kau tidak ingin pulang, Piandra??”
“Siapa? Ada siapa di rumahku selain aku dan kenangan Bunda? Tak ada. Bapak jangan bergurau sore begini… Yah, saya akan pulang. Tapi nanti, sebentar lagi. mungkin saat matahari benar-benar tenggelam disana.” Tangan Piandra menunjuk ke balik bukit sunyi. Kemudian ia berhenti memandangi senja. Matanya kembali membelalak. Ia yakin, itu bukan bayangan. Itu seseorang yang sepertinya sudah lama berdiri menyandarkan bahunya pada rindang jati.
Sekali lagi, makhluk itu tersenyum begitu lembut. Piandra berdiri, angin senja mempermainkan rok hitamnya searah langkahnya perlahan.
“Berhenti. Jangan kesini. Disini dingin, tubuhmu bisa mengigil. Lalu kau sakit, dan mati. Aku benci, kenapa berdiri disana? Kau menguping? Mendengarkan apa? Dan untuk apa? Kenapa kau kesini? Tidakkah kau berkaca sebelum berjalan kesini??”
“Ah, entahlah…. Aku hanya iseng kesini dan menemukanmu asyik dengan Pak Wahid. Wow, cepat sekali bapak itu berlalu. Lebih cepat dari deretan pertanyaanmu, Pie…”
Ia berjalan lurus melewati tubuh kaku Piandra. Lurus tak menghiraukan sorot mata Piandra yang penuh amarah.
“Aku ingin mengunjungi Bundamu. Ia tentu merindukanmu. Dan aku cukup berjasa menemaninya sepanjang petualanganmu… Ke Solok kalau aku tak salah ingat… Hahaha ke Solok rupanya kau datangi juga… Gadis aneh. Kau berhutang terima kasih padaku. Kalau bukan aku, siapa yang menemani Bunda Ratihmu…” sekali lagi ia tersenyum. Makhluk yang sangat menjengkelkan dimata Piandra selama ini.
Setengah memutar badan, Piandra memperhatikan pemuda itu berjalan menyusuri bukit sunyi, menemukan dimana Sang Ratih terbaring. Ia merapikan rumput-rumputan di antara nisan Sang Ratih. Sambil melirik ke arah Piandra sesekali, dan menebar senyum lembut itu… Senyum yang mengejek, batin Piandra.
“Nah, apa kau tak ingin pulang? Hari mulai gelap,, barangkali sekarang waktunya penghuni bukit ini terbangun… hehehehee…. Ayo pulang, sekarang!!” Tangan Piandra ditariknya pelan, namun Piandra tak mengelak. Ia turut seperti yakin akan baik-baik saja.
“Aku ingin membunuhmu. Mencekikmu, meracunimu, atau mendorongmu dari atas sini. Pokoknya kau harus mati. Kenapa kau tidak mati saja. Aku pasti tidak menangis, aku bisa jamin.”
“Jaminanmu ditolak. Tidak akan disetujui pihak manapun. Ingat ya, kau berhutang banyak padaku. Rasa-rasanya separuh nyawamu boleh jadi milikku. Bagaimana penawaranku? Setuju, kan?”
“Kau jangan bergurau… Aku sangat membencimu. Kehadiranmu hari ini semakin membangkitkan marahku.”
“Kau marah?” Pemuda itu membalikkan badannya, menatap mata Piandra dengan senyum lembut khas nya.
“Oh tidak. Jangan tersenyum seperti itu. Aku semakin tidak suka. Mengertilah, aku sangat membencimu.” Dilepasnya tangan pemuda itu, kemudian ia sendiri berlalu di depan. Mendahului. Meninggalkan bukit sunyi. Sejenak Piandra membalikkan badannya.
“Kau berpesan apa pada Bunda? Satu blok untuk kematianmu nanti? Kapan? Aku tak sabar lagi..” Ia berlari kecil menjauhi Puguh yang terus menggelengkan kepalanya melihat tingkah Piandra.
“Pie, aku lapar. Aku ingin sate di warung mbah Joyo. Sudah tiga tahun kau tidak menyapanya, bukan? Sesekali berkunjunglah. Dusun ini masih milikmu. Dan milikku juga. Milik kita. Ingat kanak-kanak kita sering bercengkrama dengan beliau. Tentunya hingga ambisimu menemui Sofia dan Chandra muncul. Bodohnya kau meninggalkan rumahmu sendiri. Sekarang seseorang sudah membelinya. Padahal rumah itu penuh kenanganmu dan Bundamu.. Aku juga pernah berlari kecil di hijau rumputnya. Aku masih ingat. Kau sering menangis merebahkan badan di rumput…. Hahaha.. perutku sakit kalau mengingat masa kecilmu, Pie.”
“Aku tidak meninggalkan dusun ini. Sekarang aku disini. Rumah itu akan jadi milikku lagi, singkirkan barang-barangmu dari sana. Aku benar-benar membenci setiap tindakanmu terhadapku. Kau sering mencuri telan es krimku. Aku tidak bisa memaafkanmu soal ini. Jangan merayuku!!!”
“Merayu? Bedakan antara merayu dan memaksa ya…. Aku tidak akan minta maaf soal es krim. Sudah lewat berapa puluh tahun masa itu. Mau kau hitung berapa hutangku dalam es krim itu? Masih tak cukup untuk melunasi hutangmu padaku…. Bundamu sangat menyayangiku daripada kau sendiri. Siapa suruh bertamasya keliling dunia. Sudah ketemu Sofia dan Chandra?”
Kali ini Piandra berhenti. Terlihat sekali kejengkelan pada wajahnya. Puguh masih saja santai berlalu. Tak menghiraukan Piandra. Pemuda itu begitu percaya diri, senyumnya begitu lembut dan menebar ke segala. Puguh mengenalnya dari kecil, sejak Piandra pertama kali melihat dunia melalui dusun ini.
“Pu…” panggilan khas Piandra sejak kecil untuk Puguh.
“Benar ini kau, Puguh?”
“Bukan. Aku jelmaan penghuni bukit sunyi. Aku teman Bundamu.. hehehe” gaya bercanda yang khas sekali, milik Puguh, dengan senyum yang juga khas. Lembut.
“Kenapa kau kesini?”
Puguh menghela nafas perlahan.
“Entahlah Pie. Aku tidak mati, aku hanya sesak nafas hingga sekarang. Untunglah kau pergi, jadi kau tidak mati ikut terbakar di malam itu seperti bunda Ratih. Sayang sekali, aku saat itu tidak disini. Aku tidak tahu kejadian yang pasti. Ibuku yang mengabariku, Ibuku mencarimu juga, dan ayah bilang kau ke Solok. Mencari Sofia dan Chandra, aku benci dengan kota itu. Kalau saja kau tidak pergi kesana, ah, tapi kau akan ikut terbakar dan mati malam itu juga. Tidak. Untung kau pergi…”
“Tapi aku benci padamu. Aku sangat benci. Aku ingin membunuhmu saat ini…”
“Maaf…. Aku pergi tanpa mengucapkan perpisahan denganmu. Aku tidak ingin pergi, karena itu aku tidak pamit. Karena aku akan kembali. Tapi, aku tidak menemukanmu saat kembali, kau di Solok di malam rumahmu terbakar. Dan Bunda Ratih meninggal. Aku benci sekali tidak menemukanmu, meskipun aku lega, kau tidak ikut mati.”
Langkah Puguh menjadi pelan, mengajak Piandra menikmati jalanan malam tempat mereka dulu berlarian seusai sekolah. Tampak banyak yang berubah. Kenyataan matinya Sang Bunda mengejutkan Piandra pagi ini, kemudian Puguh menemani penyesalannya hingga malam. Mereka kembali menjadi kanak-kanak lagi.
“Pie… Kau ingin es krim??”
*********
01:57 |
Category:
Cerpen
|
1 komentar








Comments (1)
Cerpennya bagus lanjutin...